September 18, 2004

Tentang Bom

"Sudah menjadi sunnatullah seperti juga dengan perpecahan dalam tubuh Islam kalau manusia akan menjadi perusak di bumi tapi juga sudah menjadi sunnatullah kalau manusia juga menjadi pencipta dan pemelihara, ga perlu kutuk-kutukan deh..Presiden mengutuk pelaku bom kuningan, mau dikutuk jadi kodok? Kalau udah terjadi ya udahlah, saya sudah ilang kemarahan, sudah menjadi kesedihan dan kepasrahan, numb, sekarang jalani apa adanya saja"tulisan dengan tanda petik diatas gwe comot dari postingan seorang temen.

Sedikit gusar dengan pernyataan diatas "Sudah Menjadi Sunattullah semuanya itu terjadi" kalo boleh saya merangkum isi semua post diatas, sangat ironi karena Allah sendiri pernah berfirman "Tak akan pernah berubah nasib suatu kaum kalo tidak dirinya sendiri yang akan merubahnya" Intinya segala sesuatu yang menjadi takdir baik dari diri kita maupun yang terjadi pada orang lain pada hakikatnya bisa kita rubah kalaupun kita mau merubahnya, Jadi Tegas bahwa Allah adalah MAHA berkehendak MAHA memegang Takdir tapi tetap manusia diberi kewenangan penuh untuk merubah takdirnya.

Bom kuningan yang terjadi sebenernya bisa kita cegah sehingga bencana kemanusiaan tidak perlu terjadi, Ada peringatan melalui SMS tentang keberadaan bom dan dimana akan diledakkan tapi apa kata Da'i Bachtiar waktu ditanya soal kabar itu "Jakarta dalam keadaan aman terkendali" 24 jam setelah pernyataan itu bom kuningan meledak 200 orang terluka 9 orang tewas mengenaskan, akan teruskah jatuh korban karena perbuatan biadab.

Lain cerita kalo kita selalu waspada setiap peringatan kita tanggapi dengan serius, menakar setiap informasi yang masuk akal, mengingat Bom selalu terjadi dibulan September antara tanggal 9 sampai 11, dilakukan sweeping operasi besar-besaran dan tindakan pencegahan lainnya kita tidak menjamin keberhasilan dari tindakan pencegahan itu tapi setidaknya kita sudah berusaha mengubah takdir yang akan berlaku.

"ga perlu kutuk-kutukan deh..Presiden mengutuk pelaku bom kuningan, mau dikutuk jadi kodok? Kalau udah terjadi ya udahlah, saya sudah bilang kemarahan, sudah menjadi kesedihan dan kepasrahan, numb, sekarang jalani apa adanya saja"
saya sangat tersinggung dengan tulisan teman diatas. Kutuk mengkutuk menurut saya juga tidak sepenuhnya salah, mengkutuk timbul karena luapan emosi karena sebuah perbuatan salah, tidak ada dalam kamus bahasa didunia ini istilah mengkutuk sesuatu yang baik. mengkutuk bersifat seruan agar kebaikan dan kejahatan akan terlihat sangat jelas "Saya sangat mengkutuk aksi pengeboman di Kedubes Australia karena jelas menyengsarakan banyak orang". Ok deh Bom sudah terjadi tapi satu kewajiban bagi kita semua untuk mulai bertindak agar Bom bom berikutnya tidak lagi menyalak.

Kita tidak boleh kalah oleh kepasrahan dan membiarkan semuanya terjadi, bersikap apatis terhadap segala sesuatu yang sudah terjadi. janganlah kita berpasrah hati yang terjadi ya sudahlah terjadi. Kita harus ikut dalam setiap upaya pencegahan agar tragedi kemanusiaan itu tidak terjadi lagi.

Kalo kita selalu mempunya pola pikir sebagai subyek kita akan selalu melihat permasalahan dari sudut pandang kita. Marilah kita mencoba untuk selalu berpikir selain menjadi subyek bagi diri kita sendiri kita juga menjadi obyek bagi orang lain.

Apa yang kita rasakan kalau ternyata yang meninggal karena BOM adalah slaah satu dari keluarga kita, orang yang kita cintai, ayah kita, Suami kita, Istri kita, anak kita? sebagai manusia dan hamba ALLAH yang tak luput dari segala kekurangan pasti kita akan merasa sangat sedih dan kesedihan diciptakan oleh ALLAH pasti mempunya maksud didalamnya, agar kita lebih bertawakal, bahwa ternyata kita adalah maklhuk yang lemah jauh dari kesempurnaan dan MAha segalanya bagi ALLAH. "terkutuklah pembuat kerusakan dimuka bumi"


"Bukan tentang segala hal kerusakan yang sudah terjadi, tapi upaya kita agar kerusakan itu tidak terjadi lagi"

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home