October 12, 2004

Kenapa Gwe ngomong Politik?

Analisa gwe soal Sepak terjang USA!!!

Ada sebuah grand design membuat semua tatanan sistem di dunia ini menjadi satu tongkat komando dan tongkat komando itu akan dipegang oleh Amerika. Setelah jatuhnya Uni Soviet tidak ada lagi kekuatan penyeimbang untuk membendung arogansi USA. Isu teroris kemudian dihembuskan oleh USA untuk memudahkan jalan mereka melenggang menguasai dunia dengan satu kepalan tangan. Untuk menguasai dunia, diperlukan ekonomi yang kuat dan minyak yang cukup kenapa minyak? karena USA sadar bahwa satu2nya jalan untuk mengancurkan USA adalah dengan memainkan harga Minyak dunia. dan minyak berada di TIMUR TENGAH, negara timteng kebanyakan memeluk Islam, orang Islam sendiri sangat militan dan berani mati untuk mempertahankan wilayahnya. Karena pemeluk Islam sangat militan maka dibuatlah sebuah api penyulut kemarahan yaitu dengan mengadu domba umat islam agar terpecah belah sehingga sangat mudah ditaklukkan.

Negara pembuat tungku penyulut itu adalah Israel. Israel mungkin juga adalah arsitek dari semua langkah yang diambil oleh USA. Israel bertugas untuk selalu membuat Instabilitas di kawasan TimTeng untuk menyulut kebencian dan perlawanan Umat Islam di Timteng. karena Palestina yang notabene sebagai negara tertindas mayoritas adalah pemeluk Islam.

Dan terbuktilah sangat berhasil. Api penyulut membuat umat Islam menjadi sangat militan dan cenderung nekat menyerang semua kepentingan USA didunia karena dirasa kenekatannya kurang, nilai historisnya kurang maka USA perlu sebuah amunisi yang bisa memberikan pembenaran terhadap Counter attack USA keada umat ISLAM. Dan bisa saja Usama Bin Laden terpilih menjadi boneka USA untuk menghancurkan umat islam sendiri dan kemudian terjadilah tragedi 911. Bukan tanpa alasan saya mengemukakan demikian seperti kita ketahui jauh sebelum Bush menjadi presiden Keluarga Bush sangat dekat dengan keluarga bin Laden kedekatan dua keluarga itu terkait soal bisnis minyak. Ada kepentingan share bagi hasil antara Laden dan Bush untuk mengeruk minyak di timteng. Dan pemerintah USA sangat mendukung upaya Bush karena semuanya itu juga buat kepentingan USA untuk beberapa tahun kedepan. seperti kita ketahui USA kini mengalami krisis minyak. Negara2 timteng sangat bisa mengontrol USA kalo mereka jeli. Hanya dengan sebuah senjata ampuh bernama "Harga Minyak" USA bisa hancur hanya dalam hitungan tahun negara2 di Timteng bisa memainkan harga minyak jatuhlah ekonomi USA. karena sadar akan hal tsb maka perlu kiranya USA memiliki ladang sendiri di timteng dengan menumpang isu teroris dihancurkanlah negeri sadam dan dikeruklah sumber daya minyak di iraq. Dan upaya USA mengamankan ekonominya lewat minyak so far so good.

Bagaimana dengan Indonesia? Indonesia dimata USA adalah sebuah ancaman bagi kepentingan Amerika khususnya dikawasan Asia dikhawatirkan Indonesia mampu menjadi negara superpower dikemudian hari, kalo saja Rakyat Indonesia mau bersatu tentunya. Jadi Indonesia adalah the next target USA berbagai upaya penghancuran Indonesia sudah berjalan mulus di negara kita. kini timbul kekhawatiran baru karena Presiden kita yg baru adalah orang militer USA sangat takut kekuatan superpower yang pernah dimiliki Soeharto kembali lagi di indonesia namun seperti kita ketahui SBY juga pernah mengeyam pendidikan militer di USA bukan tidak mungkin SBY juga merupakan tangan kanan USA. wah wah Who knows!!!!!

“Hampir dapat dipastikan, bukan tak mungkin AS akan menjadikan Indonesia sebagai target operasi. Hal ini mengingat Indonesia sejak awalnya adalah negara potensial menentukan tinggi rendahnya stabilitas keamanan di Asia Tenggara dan Australia,” kata Dr AC Manullang. Manullang melihat pola serupa sudah terlihat dengan yang terjadi di Filipina. Untuk memberangus gerakan separatis Islam yang dituduh melakukan aksi teroris, AS sudah mulai mengirimkan pasukan ke Filipina dengan dalih membantu pelatihan anti teroris. Beberapa hari terakhir, isu adanya kabar jaringan Al Qaeda kembali hangat menyusul penangkapan sekelompok orang yang dituduh teroris di Malaysia (Kumpulan Mujahidin Malaysia) dan Singapura (Jemaah Islamia). Media massa setempat memberitakan pemimpin kelompok itu adalah Abubakar Ba’asyir, seorang ulama yang kini tinggal di Sukoharjo, Jawa Tengah. Belakangan, Jemaah Islamiah diduga memiliki kaitan dengan Al Qaeda pimpinan Osama bin Laden. Isu makin bergetar kuat, ketika polisi Filipina menangkap Fathur Rohman AlGhozi yang dikatakan warga Indonesia. Polri memperoleh info bahwa Fathur pernah tinggal di Sukoharjo, Jateng.

Meski isu bergulir deras, pemerintah AS pernah tak merevisi pernyataan yang menyebut Indonesia tak termasuk negara jaringan Al Qaeda. Demikian pula dengan pemerintah Indonesia. Pemerintah tak pernah mengatakan sikap tegas soal adanya jaringan Al Qaeda ini. Soal ini, AC Manullang menilai AS bisa saja dengan sengaja tak mengklaim ada Al Qaeda di Indonesia. “Bukan tak mungkin hal itu untuk memperluas ruang gerak Al Qaeda di Indonesia atau AS ingin mengambil hati terhadap gerakan Islam disini,” papar Manullang. Sementara soal pemerintah yang cenderung pasif, Manullang menilai karakter pemerintahan pada saat-saat ini memang tak akan pernah bisa bersikap tegas. “Hanya pemerintahan Soekarno saja yang bisa bilang tidak atau ya,” kata AC Manullang. “Dari sisi lain, hal ini menimbulkan kecurigaan AS sehingga mereka akan tetap membuka peluang dengan melakukan operasi intelijen, untuk mengobok-obok ada bahwa Al Qaeda ada di Indonesia,” lanjut AC Manullang. Manullang sendiri tak percaya Al Qaeda bisa tumbuh kuat di Indonesia mengingat meski mayoritas beragama Islam, penduduk Indonesia mayoritas bukan pemeluk Islam taat.

Lantas kenapa AS tertarik dengan Indonesia? Menurut artikel Manullang yang gwe baca, AS melihat negara yang penting dan potensial. Posisinya menentukan di Asia tenggara dan Indonesia pun berpotensi menjadi negara terkuat di dunia bila seluruh penduduknya bersatu. “Karena itu, Indonesia mungkin menjadi target strategi globalisasi AS,” ujar Manullang. Namun Manullang yakin, strategi ini tak akan berhasil mengingat banyak negara di dunia tak akan rela melihat Indonesia di bawah kendali negara super power. “Hal ini karena politik globalisasi sudah berubah dari bipolar (AS-Rusia) menjadi multipolar (internasional).

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home